Antaralain masalah yang paling tinggi merupakan masalah kesehatan gizi yaitu Anemia, Obesitas, Gaky (kekurangan asupan yodium), KVA, dan KEP. Dari beberapa hal itu masalah yang paling serius dan mendesak di negara ini merupakan KEP atau Kekurangan Energi Protein. Banyak dibeberapa daerah kurang adanya tindakan tentang masalah gizi. Saatini kasus gizi buruk di Indonesia sudah mengalami penurunan jumlah. Tercatat penurunan kasus gizi kurang dari 31 persen di tahun 1990 menjadi 17,9 persen di tahun 2012. Kasus gizi kurang banyak dialami oleh beberapa daerah yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, NTB dan NTT. UpdateInformasi Covid-19 Indonesia . Kasus Positif: 5,998,953 +3,077: Sembuh: 5,714,662 +12,499: Meninggal: 154,670 +100: KASUS anak penderita gizi buruk di Jakarta Utara sebagian besar terjadi di permukiman ilegal yang masih menjamur akibat arus urbanisasi. Dari 34 kasus gizi buruk sepanjang Januari tahun ini, sembilan di antaranya Mellysinc@Mellysinc. April 2019 1 52 Report. Di beberapa tempat di Indonesia terjadi kasus gizi buruk. Dalam mengkaji permasalahan tersebut maka yang harus dikaji adalah faktor manusia dan kondisi fisik di mana kejadian tersebut terjadi. Pendekatan geografi yang berkaitan dengan kasus tersebut yaitu . Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Ada tiga pendekatan geografi yang kita harus ketahui. Masing-masing prinsip memiliki kata kunci. Oleh karena itu dalam penentuannya tidak ada kesalahan, berikut pengertiannya masing-masing Pendekatan ekologi, adalah pendekatan yang sangat menyoroti fenomena alam yang terjadi disebabkan oleh adanya kegiatan manusia. Contohnya Di Jakarta terjadi kemacetan yang disebabkan karena luapan jumlah pemakai kendaraan bermotor. Pendekatan keruangan, adalah pendekatan yang sangat menyoroti fenomena alam yang terjadi tanpa adanya kegiatan manusia. Contohnya Gempa yang terjadi di Banten pada pertengahan tahun kemarin disebabkan karena adanya pergerakan lempeng didalam laut, kedalaman gempanya sampai 10 km. Pendekatan kompleks wilayah, adalah cara untuk menyelesaikan permasalahan geosfer. Contohnya Erosi yang terjadi didaerah garut memakan korban jiwa, disebutkan permasalahan tersebut disebabkan karena curah hujan yang terus menerus mengguyur daerah garut, pemerintah setempat sudah menyelesaikan permasalahan tersebut dengan membuat tenda-tenda evakuasi untuk korban yang tertimpa hasil Erosi. Ilustrasi soal menjelaskan permasalahan yang terjadi disebabkan karena faktor manusia dan faktor fisiknya yang menyebabkan gizi buruk. STATUS GIZI INDONESIA ALAMI PERBAIKANDIPUBLIKASIKAN PADA RABU, 30 JANUARI 2019 000000, DIBACA KALIJakarta, 30 Januari 2019Masalah gizi di Indonesia terutama di beberapa wilayah di bagian Timur seperti NTT dan Papua Barat, dinilai masih tinggi. Namun, secara nasional, status gizi di Indonesia mengalami perbaikan yang signifikan. Sebagai contoh provinsi NTT penurunan prevalensi stunting sebanyak hampir 2 % pertahun penurunan, hal ini menunjukkan upaya multisektor yang terkonvergensi pusat dan daerah. Penderita gizi buruk tentu tidak akan lepas dari pantauan tenaga kesehatan, dimana pun kasusnya tenaga kesehatan dibentuk untuk selalu siaga membantu perbaikan gizi status gizi nasional dapat dilihat berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018. Pada prevalensi Gizi Kurang Underweigth perbaikan itu terjadi berturutturut dari tahun 2013 sebesar 19,6% naik menjadi 17,7% 2018. Prevalensi stunting dari 37,2% turun menjadi 30,8%, dan prevalensi kurus Wasting dari 12,1% turun menjadi 10,2%.Dalam perhitungan data kasus gizi buruk harus diambil dari indeks berat badan menurut tinggi badan BBTB atau yang disebut sangat kurus sesuai standar WHO yang disertai dengan gejala klinis, jelas Dirjen Kesehatan Masyarakat Kirana Pritasari, di Jakarta 30/1.Ia menegaskan, intervensi terhadap masalah gizi terutama di wilayah Indonesia bagian Timur sudah ditangani atau diintervensi oleh tenaga gizi di Puskesmas. Hasil Riset Tenaga Kesehatan Risnakes tahun 2017, Tenaga Gizi di seluruh Indonesia sudah memenuhi 73,1% menjelaskan, untuk 26,1% Puskesmas yang belum memiliki Tenaga Gizi utamanya di daerah terpencil dan sangat terpencil, Kementerian Kesehatan memiliki program Nusantara Sehat. Nusantara Sehat terdiri dari tenaga tenaga kesehatan seperti dokter, dokter gigi, tenaga gizi, perawat, bidan, tenaga farmasi, sanitarian, analis kesehatan dan tenaga kesehatan masyarakat yang dilatih untuk ditempatkan di Puskesmas selama 2 intervensi untuk pemulihan gizi buruk yaikni dengan pemberian makanan tambahan. Kementerian Kesehatan sudah mendistribusikan makanan tambahan berupa Biskuit dengan kandungan kaya zat gizi ke seluruh Puskesmas di Indonesia termasuk wilayah itu, dilakukan juga kegiatan surveilans gizi yang dimulai dari masyarakat di Posyandu, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan. Pengumpulan data individu yang teratur akan bisa mendeteksi secara dini masalah gizi yang dihadapi, sehingga analisis dan intervensi yang dilakukan akan tepat sasaran dan tepat lain dalam mencegahan masalah gizi adalah dengan perubahan perilaku masyarakat. Komitmen pemerintah baik pusat maupun daerah sudah tertuang dalam regulasi yang dikeluarkan oleh pemerinta pusat dan Pemerintah wilayah Indonesia Timur sudah ada 10 Kabupaten yang menerbitkan regulasi Komunikasi Perubahan Perilaku dalam rangka pencegahan stunting dan masalah gizi ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili 021 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. D2 JAKARTA - Direktur Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies IDEAS Yusuf Wibisono menilai permasalahan gizi buruk di Indonesia meningkat pada masa pandemi. Hal tersebut terjadi karena kombinasi dua persoalan utama, yaitu jatuhnya daya beli masyarakat dan terganggunya layanan kesehatan esensial, terutama bagi kelompok rentan, seperti ibu dan anak. Turunnya daya beli masyarakat sebagai akibat dari guncangan ekonomi saat pandemi membuat akses pangan dan asupan gizi masyarakat miskin memburuk. “Konsumsi pangan yang tidak bergizi pada gilirannya memicu malnutrisi, yang pada penduduk usia dini akan membawa pada masalah serius, yaitu stunting pendek, underweight kurus, dan wasting gizi kurang,” kata Yusuf dalam Diskusi Publik Nasional Buruk Gizi Di Masa Pandemi’ di Jakarta pada Kamis 8/4. Dia menambahkan, ketika kebutuhan akan dukungan melawan gizi buruk dan stunting meningkat, intervensi gizi oleh pemerintah justru melemah seiring penyebaran virus yang semakin masif dan meningkatnya beban sistem kesehatan nasional. “Posyandu dan puskesmas yang merupakan ujung tombak intervensi gizi spesifik, banyak terganggu operasionalnya, terutama di wilayah zona merah pandemi,” kata Yusuf. Baca juga Banyak Anak Banyak Rezeki, Penyebab Adanya Generasi Sandwich Kondisi kesehatan generasi penerus negeri masih memprihatinkan. Yusuf menuturkan, pada 2020, sepertiga anak Indonesia memiliki keluhan kesehatan, dengan kasus tertinggi dialami anak usia dini 0-4 tahun 43,7 persen. Hanya 62,4 persen anak yang dilindungi jaminan kesehatan, dengan kasus terendah dialami anak dari keluarga miskin 52,7 persen. Kondisi stunting disebabkan berbagai faktor mulai dari kesehatan dan nutrisi ibu pada masa kehamilan yang buruk, kondisi pangan yang tidak tercukupi pada saat bayi dalam kandungan hingga masa kanak-kanak, hingga infeksi penyakit. “Pada 2020, terdapat 11,4 persen Ibu melahirkan dengan anak BBLR berat badan lahir rendah, yaitu bayi dengan berat lahir kurang dari 2,5 kg. Stunting telah dimulai dari kandungan ibu,” kata Yusuf. Masalah gizi buruk berakar dari rendahnya daya beli kelompok miskin, yang menghalangi mereka untuk mengakses pangan penting, namun harganya mahal. “Menghadapi harga pangan yang mahal, strategi umum yang ditempuh keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan beralih ke pangan yang lebih murah dan diawetkan, namun kurang sehat, seperti mi instan,” ujar Yusuf. Temuan lapangan IDEAS dari program pencegahan stunting oleh LAZ Dompet Dhuafa DD di sepanjang paruh kedua 2020 memberikan gambaran awal permasalahan rendahnya asupan gizi dan tingginya kasus gizi buruk pada masa pandemi ini. Di bawah Program Kampung Tangguh Cekal Corona’, Dompet Dhuafa melakukan pemantauan terhadap 270 anak usia 0-5 tahun di 6 titik, yaitu Desa Neuheun Aceh, Desa Gowok Banten, Kelurahan Tengah Jakarta, Desa Lambang Jaya Jawa Barat, Desa Gili Gede Indah Nusa Tenggara Barat/NTB, dan Desa Namosain Nusa Tenggara Timur/NTT. “Dari 59 balita yang teridentifikasi sebagai rentan gizi dan terpilih untuk mengikuti program pencegahan stunting DD, 21 balita terkategori memiliki tinggi badan normal, 24 balita pendek dan 14 balita sangat pendek, dengan rata-rata nilai z-score TB/U stunting adalah -2,24,” tutur Yusuf. Dia menambahkan, pada saat yang sama, 12 balita terkategori memiliki berat badan normal, 29 balita kurus, dan 18 balita sangat kurus, dengan rata-rata nilai z-score BB/U underweight adalah -2,64. “Dari temuan tersebut terlihat bahwa masalah gizi buruk pada masa pandemi nyata terlihat di penjuru negeri, bahkan ditemui di Ibu Kota,” kata Yusuf. Dari pengamatan terhadap 59 balita setelah mendapat intervensi gizi awal dan lanjutan selama 28 hari, terlihat hasil yang positif. Nilai rata-rata z-score TB/U stunting membaik dari semula -2,24 menjadi -1,99. Balita dengan tinggi badan normal bertambah dari 21 anak menjadi 31 anak. Nilai rata-rata z-score BB/U underweight juga membaik dari -2,64 menjadi -2,27. Balita dengan berat badan normal bertambah dari 12 anak menjadi 20 anak.“Program pencegahan stunting DD adalah salah satu contoh partisipasi masyarakat dalam menanggulangi dampak pandemi, dengan fokus pada akses pangan kelompok miskin,” kata Yusuf. Dalam kesempatan diskusi tersebut, General Manager Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa, Yeni Purnamasari, menjelaskan bahwa lembaganya turut berpartisifasi dalam upaya pencegahan gizi buruk selama pandemi melanda. Baca juga Pakar Terapi Anak Autis Harus Perhatikan Kenyamanan “Pada masa pandemi Covid-19, DD terus melakukan upaya pada penanggulangan stunting yang terangkum dalam program besar Aksi Peduli Dampak Corona APDC, seperti melakukan Posyandu mobile, Pemantauan Kesehatan Ibu dan Balita, Pos Gizi, dan Pemantauan status gizi," ujar Yeni. Program APDC sendiri adalah Pusat pemulihan gizi kurang atau sangat kurang dengan pemberdayaan masyarakat yang meliputi pemberian makanan tambahan kepada anak secara intensif sesuai usia dan kondisinya serta pembelajaran edukatif kepada ibu balita dengan melibatkan peran serta kader. “Jumlah peserta dari kegiatan Program APDC sebanyak 10 balita dan 10 ibu balita di tiap wilayah sehingga secara keseluruhan di semua titik intervensi adalah 60 balita dan 60 ibu balita,” kata Yeni. Selain program APDC, lembaga yang sudah berkiprah sejak 1993 itu memiliki setidaknya empat program utama terkait permasalahan gizi yaitu Jaringan Kesehatan Ibu dan Anak, Program Kesehatan Kawasan, Pos Kesehatan dan Sosialisai Kesehatan Reproduksi. “Jaringan kesehatan Ibu dan Anak dengan total penerima manfaat sebanyak sebanyak Orang, Program Kesehatan Repreduksi di Provinsi Papua sebanyak penerima manfaat, Pos Sehat di Aceh dengan penerima manfaat, dan yang terbesar adalah Program Kesehatan Kawasan dengan penerima manfaat,” ujarnya. Ketika program intervensi kesehatan pemerintah yang esensial seperti Posyandu dan Puskesmas banyak terganggu operasionalnya saat pandemi, Dompet Dhuafa meluncurkan program Posyandu Mobile. Posyandu Mobile terdiri dari beberapa kegiatan, di antaranya edukasi Pemberian Makan Bayi dan Anak PMBA, pendampingan intervensi gizi terpusat, Pemberian Makanan Tambahan PMT Gizi seimbang, pemantauan berkala, jejaring rujukan. “Posyandu Mobile menjadi solusi pengukuran tumbuh kembang bayi balita selama pandemi dan dukungan kader, mitra dan masyarakat menjadi hal yang strategis untuk keberlangsungan program,” kata Yeni mengakhiri pemaparannya. Pada implementasi di lapangan program pencegahan stunting yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga sosial banyak menemui kendala terutama terkait sumber daya manusia. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Desa Paseban Klaten, Al Eko Triraharjo. “Kami mengalami kesulitan mencari kader atau relawan yang benar-benar siap untuk membantu program pemerintah desa terkait pencegahan stunting,” ujar Al Eko. Walau demikian, dia yakin hal tersebut bisa diatasi dengan menjalin sinergi antarkelompok masyarakat dengan pemerintahan desa. “Kunci keberhasilan program penanganan stunting adalah membangun sinergi dengan berbagai pihak terkait,” tutur Al Eko. 1. Angin puting beliung yang melanda wilayah Solo dan Yogyakarta beberapa waktu yang lalu merusak rumah-rumah warga dan perkantoran di daerah tersebut. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... a. ekologi b. keruangan c. kompleks wilayah d. korologi e. regional 2. Banyaknya pabrik besar di sekitar sungai Siak Riau, menyebabkan air sungai tersebut tidak jernih. Diduga sungai sudah terkontaminasi berbagai macam limbah industri yang dibuang ke sungai. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji gejala tersebut adalah pendekatan... a. spatial b. temporal c. kronologi d. ekologi e. kompleks wilayah 3. Studi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Pekalongan tidak hanya menganalisis kondisi penduduk dan sarana transportasi yang ada, tetapi juga secara komprehensif melibatkan kondisi yang ada di wilayah sekitar Pekalongan. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... a. kompleks wilayah b. keruangan c. interaksi d. sejarah e. lokasi 4. Curah hujan di Indonesia tergolong tinggi karena wilayah Indonesia mengalami hujan orografis, hujan zenithal, dan hujan muson. Pendekatan geografi yang sesuai untuk menganalisis fenomena tersebut adalah pendekatan... a. Regional b. Spasial c. Ekologikal d. Nasional e. Teritoria 5. Di daerah dataran dengan hamparan lahan pertanian yang luas, umumnya permukiman penduduk bergerombol membentuk desa pada tempat-tempat tertentu. Pendekatan geografi yang digunakan untuk menganalisis masalah tersebut adalah pendekatan... a. kewilayahan b. lingkungan c. keruangan d. regional e. ekologi 6. Alih fungsi lahan untuk permukiman, vila, resort, dan hotel di wilayah Bogor dan Bandung menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Pendekatan geografi yang tepat untuk mengatasi banjir di Jakarta adalah pendekatan... a. kompleks wilayah b. kronologi c. keruangan d. ekologi e. spasial 7. Tingginya curah hujan di sekitar Gunung Sinabung menyebabkan material vulkanik terbawa aliran lahar. Aliran tersebut membawa material vulkanik menuju Sungai Lau Borus sehingga sungai tersebut meluap. Luapan air sungai mengakibatkan banjir lahar melanda beberapa desa di lereng gunung. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... a. kompleks wilayah b. kelingkungan c. kewilayahan d. keruangan e. korologis 8. Perhatikan fenomena-fenomena geosfer sebagai berikut 1 tingginya tingkat kesuburan tanah di daerah pegunungan disebabkan adanya abu vulkanik dari gunung api 2 degradasi lahan cenderung disebabkan perilaku manusia yang memanfaatkan lahan tidak sesuai peruntukannya. 3 Gempa dan angin puting beliung merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia 4 Pada musim kemarau rawan terjadi bencana kabut asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan karena sebagian warga masyarakat membuka areal perkebunan dengan cara membakar lahan 5 Di kota besar seperti Jakarta, terdapat banyak permukiman kumuh di daerah aliran sungai sehingga berpotensi banjir pada msuim hujan. Fenomena geosfer yang sesuai dikaji menggunakan pendekatan kelingkungan ditunjukkan oleh angka... a. 1, 2, dan 3 b. 1, 3, dan 4 c. 2, 3, dan 4 d. 2, 4, dan 5 e. 3, 4, dan 5 9. Daerah resapan air di wilayah perkotaan berkurang setiap tahun akibat kegiatan pembangunan. Saat musim hujan, saluran air tidak mampu menampung air hujan. Akibatnya terjadi banjir atau genangan air. Pendekatan geografi yang sesuai dengan permasalahan tersebut adalah pendekatan... a. Spasial b. Regional c. Keruangan d. Kelingkungan e. Kompleks wilayah 10. Temperatur permukaan Bumi semakin tinggi. Salah satu penyebabnya karena area hutan semakin berkurang. Pendekatan geografi yang sesuai untuk menganalisis fenomena tersebut adalah pendekatan... a. Ekologi b. Nasional c. Teritorial d. Regional e. Spasial 11. Sungai Musi merupakan salah satu tempat wisata di kota Palembang, namun sayang kebersihan dan kelestariannya tidak dijaga dengan baik. Penduduk kota Palembang banyak yang membuang sampah di sungai Musi. Pendekatan geografi yang tepat untuk mengkaji permasalahan tersebut adalah pendekatan... a. Ekologi b. Keruangan c. Kewilayahan d. Deskripsi e. Kronologi 12. Setiap tahun permukaan tanah Kota Jakarta diperkirakan mengalami penurunan akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Pendekatan geografi untuk mengkaji permasalahan tersebut adalah pendekatan... a. Ekologi b. Keruangan c. Region d. Kewilayahan e. Kompleks wilayah 13. Di hulu sungai, terjadi pengalihan fungsi lahan menjadi permukiman. Hal itu menyebabkan banjir di daerah hilir sungai yang merugikan penduduk di sekitarnya. Untuk mengkaji fenomena tersebut, dapat digunakan pendekatan... a. kompleks wilayah b. keruangan c. deskriptif d. ekologi e. pola 14. Banjir menggenangi daerah hilir akibat lahan hutan di daerah hulu menjadi permukiman dan aktivitas lainnya. Jika hujan dengan intensitas sedang dapat meningkatkan limpahan air sungai menyebabkan banjir di daerah hilir. Pendekatan geografi untuk menganalisis gejala tersebut adalah pendekatan... a. ekologi b. keruangan c. korologi d. kelingkungan e. kompleks wilayah 15. Penebangan hutan di daerah Cianjur Jawa Barat telah mengakibatkan bencana berupa tanah longsor dan banjir. Bnayak sawah dan daerah pertanian yang rusak, bahkan banyak ternak dan hewan peliharaan yang mati. Pendekatan yang digunakan untuk memahami masalah tersebut adalah pendekatan... a. terpadu b. keruangan c. campuran d. ekologi e. kompleks wilayah 16. Pemerintah melaksanakan program transmigrasi dengan perencanaan yang matang dari penentuan lokasi sampai penempatan transmigran. Pendekatan geografi yang digunakan pemerintah dalam studi pelaksanaan program transmigrasi adalah pendekatan... a. Ekologi b. Korologi c. Keruangan d. Kompleks wilayah e. Diferensiasi area 17. Wacana pembangunan wilayah menjadi kota modern terus bergulir. Saat ini wacana tersebut masih dalam proses pematangan oleh beberapa pihak. Salah satu pendekatan geografi yang dapat digunakan untuk mengkaji pengembangan wilayah adalah... a. sosial masyarakat b. kompleks wilayah c. kelingkungan d. keruangan e. ekologi 18. Studi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Bandung tidak hanya menganalisis kondisi penduduk dan sarana transportasi yang ada, tetapi juga secara komprehensif melibatkan kondisi yang ada di wilayah sekitar Bandung. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... a. kompleks wilayah b. keruangan c. interaksi d. sejarah e. lokasi 19. Di beberapa tempat di Indonesia terjadi kasus gizi buruk. Dalam mengkaji permasalahan tersebut maka yang harus dikaji adalah faktor manusia dan kondisi fisik di mana kejadian tersebut terjadi. Pendekatan geografi yang berkaitan dengan kasus tersebut yaitu .... a. pendekatan keruangan b pendekatankelingkungan c. pendekatan kompleks wilayah d. pendekatan aktivitas manusia e. pendekatan perbedaan wilayah C. Pendekatan kompleks wilayah 20. Sungai Musi merupakan salah satu tempat wisata di kota Palembang, namun sayang kebersihan dan kelestariannya tidak dapat dijaga dengan baik. Penduduk kota Palembang. banyak yang membuang sampah di Sungai Musi. Pendekatan geografi yang tepat untuk mengkaji permasalahan di atas adalah .... A. pendekatan ekologi B. pendekatankeruangan C. pendekatankewilayahan D. pendekatan deskripsi E. pendekatankronologi 21. Aktivitas masyarakat Nusa Tenggara Barat dominan pada aktivitas peternakan khususnya kuda. Hal itu sangat sesuai dengan bioma sabana di daerah tersebut akibat intensitas curah hujan yang relatif sedikit. Pendekatan Geografi untuk mengkaji kasus di atas adalah .... A. pendekatan keruangan B. pendekatan kompleks wilayah C. pendekatan topik D. pendekatan ekologi E. pendekatan regional 22. Kebakaran hutan yang terjadi di pulau Sumatera menyebabkan berbagai permasalahan seperti gangguan pernapasan, jarak pandang yang terbatas bagi penduduk Sumatera bahkan Malaysia dan Singapura. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah .... A. pendekatan keruangan B. pendekatan topik C. pendekatan aktivitas manusia D. pendekatankelingkungan E. pendekatan kompeks wilayah D. Pendekatan kelingkungan 23. Setiap tahun permukaan tanah kota Jakarta diperkirakan mengalami penurunan akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Pendekatan geografi untuk mengkaji permasalahan tersebut adalah .... A. pendekatan ekologi B. pendekatan keruangan C. pendekatan region D. pendekatan kewilayahan E. pendekatan kompleks wilayah 24. Bencana alam di Wasior Papua Barat menimbulkan korban manusia dan harta benda. Bencana tersebut disebabkan kerusakan hutan akibat penebangan hutan oleh penduduk atau perusahaan di daerah hulu yang tidak terkendali. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah .... A. pendekatan kompleks wilayah B. pendekatankelingkungan C. pendekatan keruangan D. pendekatan regional E. pendekatan jarak A. Pendekatan kompleks wilayah 25. Pendangkalan sungai yang terjadi di sekitar Yogyakarta akibat banjir lahar dingin dari letusan Gunung Merapi. Pendekatan geografi untuk mengkaji hal tersebut adalah .... A. pendekatan korologi B. pendekatan deskripsi C. pendekatan ekologi D. pendekatan keruangan E. pendekatan kompleks wilayah 26. Banjir bandang yang melanda kota Padang dan kabupaten Padang pariaman Sumatera Barat 24 IuIi 2012, berakibat rusaknya pemukiman penduduk, perfantoran, dan saluran irigasi di daerah tersebut. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah .... A. pendekatan korolasi B. pendekatan keruangan C. pendekatan kompleks kewilayahan D. pendekatan regional E. pendekatan kelingkungan 27. Hujan deras yang mengguyur kota Medan beberapa waktu lalu mengakibatkan banjir di beberapa lokasi kota tersebut. Pendekatan yang diperlukan untuk mengkaji permasalahan tersebut adalah .... A. pendekatan ekologi B. pendekatan sejarah C. pendekatan komplek wilayah D. pendekatandeskripsi E. pendekatan keruangan 28. Pembangunan kawasan pemukiman yang infrastruktur di wilayah perkotaan terus dikembangkan. Pembangunan juga melibatkan wilayah sekitarnya. Pendekatan gcografi untuk pelaksanaan kegiatan tersebut adalah .... A. pendekatan spasial B. pendekatan keruangan C. pendekatan ekologi D. pendekatan kelingkungan E. pendekatan kompleks wilayah E. Pendekatan kompleks wilayah 29. Pemerintah kabupaten kota merencanakan pembangunan kawasan permukiman pada lahan-lahan kosong. Dalarn perencanaan tersebut tentunya memperhilungkan kawasan sekitarnya. Pendekatan geografi yang dapat digunakan untuk mengkaji perencanaan tersebut adalah.... A. pendekatan keruangan B. pendekatan ekologia C. pendekatan spasial D. pendekatan kompleks wilayah E. pendekatan lingkungan D. Pendekatan kompleks wilayah 30. Pada musim kemarau selalu terjadi bencana kabut asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan, karena masyarakat membuka areal pertanian dengan cara membakar lahan. Pendekatan geografi untuk melengkapi fenomena tersebut adalah .... A. pendekatan keruangan B. pendekatan spatial C. pendekatan kewilayahan D. pendekatan kelingkungan E. pendekatan kompleks wilayah D. Pendekatan kelingkungan 31. Masalah kemacetan lalu lintas di Ibukota Jakarta, penanganannya tidak hanya menganalisis kondisi penduduk dan sarana transportasi yang ada di Jakarta, tetapi perlu juga secara komprehensif melibatkan kondisi yang ada di wilayah sekitarnya seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut adalah ... A. pendekatan lokasi B. pendekatan keruangan C. pendekatan ekologi D. pendekatan kewilayahan E. pendekatan interaksi 32. Alih fungsi lahan untuk permukiman, vila, resort, dan hotel di wilayah Bogor dan Bandung menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Pendekatan geografi yang tepat untuk mengatasi banjir di Jakarta adalah .... A. pendekatan ekologi B. pendekatankronologi C. pendekatankeruangan D. pendekatankewilayahan E. pendekatan spasial D. Pendekatan kompleks wilayah 33. Rencana pemindahan ibukota Provinsi Lampung masih terus dikaji. Walaupun lokasi sudah ditentukan tetapi masih banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, seperti aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta dampaknya bagi masyarakat secara umum. Pendekatan geografi yang digunakan untuk mengkaji fenornena tersebut adalah .... A. pendekatan sejarah B. pendekatan ekologi C. pendekatan korologi D. pendekatan keruangan E. pendekatan kompleks wilayah E. Pendekatan kompleks wilayah 34. Sebelum merelokasi penduduk korban bencana gempa di Lombok, pemerintah hendaknya memperhatikan topografi, keadaan sumber air, dan aksesbilitas di daerah tujuan relokasi. Dalam studi geografi, pemerintah sebaiknya menerapkan pendekatan... A. Dekripsi B. Ekologi C. Korologi D. Keruangan E. Kompleks wilayah 35. Salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata di Indonesia adalah Yogyakarta. Daerah Yogyakarta bagian utara mulai dilakukan pembangunan hotel dan permukiman penduduk. Padahal, fungsi utama wilayah bagian utara Yogyakarta sebagai daerah tangkapan hujan. Kajian geografi menggunakan pendekatan kelingkungan pada fenomena tersebut adalah... A. Persebaran lokasi penginapan wisatawan di Yogyakarta B. Variasi penggunaan lahan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya C. Luas daerah tangkapan hujan di wilayah Yogyakarta bagian utara D. Penduduk kesulitan air bersih dan potensi banjir saat musim hujan E. Klasifikasi daerah yang mengalami krisis air berdasarkan tingkatannya D. Penduduk kesulitan air bersih dan potensi banjir saat musim hujan 36. Perhatikan gambar berikut! Fenomena pada gambar sesuai dikaji menggunakan pendekatan geografi, yaitu pendekatan... A. Ekologi B. Regional C. Keruangan D. Kelingkungan E. Kompleks wilayah 37. Contoh fenomena geosfer yang sesuai dikaji dengan pendekatan keruangan spatial approach adalah... A. Aktivitas penduduk daerah padang rumput berbeda dengan daerah gurun pasir B. Pemanasan global terjadi akibat adanya zat-zat polutan CO2 dalam atmosfer. C. Permukiman penduduk di dataran rendah membentuk pola menyebar D. Daerah perkotaan membutuhkan sumber daya alam dari pedesaan E. Sebagian besar penduduk di sekitar gunungapi bertani C. Permukiman penduduk di dataran rendah membentuk pola menyebar 38. Banjir yang sering terjadi di sekitar pemukiman penduduk di daerah perkotaan akibat semakin dangkal dasar sungai. Pendangkalan sungai terjadi akibat adanya penduduk yang membuang sampah ke sungai. Pendekatan geografi untuk mengkaji hal tersebut adalah …. A. Pendekatan keruangan B. Pendekatan korologi C. Pendekatan ekologi D. Pendekatan kewilayahan E. Pendekatan kompleks wilayah. kemarau panjang di Indonesia tahun 2015 memaksa petani merugi. Fenomena ini terjadi karena adanya El Nino di Samudera Pasifik bagian timur. Pendekatan yang sesuai dengan paragraf tersebut adalah…. A. Pendekatan keruangan B. Pendekatan kelingkungan C. Pendekatan kewilayahan D. Pendekatan kompleks wilayah E. Pendekatan distribusi. 40. Program tol laut di era pemerintahan Jokowi merupakan prioritas utama pembangunan. Tujuannya adalah untuk mempermudah mobilitas barang, jasa dan manusia antar wilayah Indonesia dari barat hingga Sumatera. Pendekatan geografi dalam paragraf tersebut adalah .... A. keruangan B. spasial C. ekologi D. kewilayahan E. kelingkungan 41. Daerah pantai sering dilanda banjir pasang rob. Kondisi itu dimanfaatkan penduduk untuk usaha pertambakan. Pendekatan geografi untuk menganalisa hal tersebut adalah.. A. Pendekatan spasial B. Pendekatan kelingkungan C. Pendekatan interelasi D. Pendekatan ekologi E. Pendekatan kompleks wilayah 42. Permukiman di sepanjang Bengawan Solo sering mengalami banjir sehingga masyarakat membuat tanggul penahan banjir dan pada waktu benjir terjadi seringkali permukiman ditinggalkan penghuninya. Pendekatan geografi untuk mempelajari fenomena tersebut adalah pendekatan... A. Keruangan B. Kewilayahan C. Kelingkungan D. Sosial E. Kemanusiaan 43. Banjir bandang di Wasior Papua Barat menelan korban ratusan orang. Peristiwa itu ditengarai karena penebangan hutan oleh para pengusaha yang mengakibatkan kira-kira 30 hingga 40 persen hutan di kawasan industri mereka sudah mengalami alih fungsi dan dinyatakan rusak. Pendekatan geografi yang berkaitan dengan fenomena geosfer tersebut adalah... A. Keruangan B. Kelingkungan C. Kewilayahan D. Spatial E. Lokasi 44. Banjir yang melanda Kota Jakarta tahun 2017 merupakan banjir yang sangat luar biasa dan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Untuk mengetahui persebaran, interelasi dan pemecahan permasalahan tersebut, pendekatan yang paling tepat digunakan adalah... A. Pendekatan keruangan B. Pendekatan kewilayahan C. Pendekatan kelingkungan D. Pendekatan temporal E. Pendekatan ekologi B. Pendekatan kewilayahan 45. Pemerintah Kalimantan Timur mulai menyiapkan lahan untuk permukiman baru transmigrasi UPT bagi sebanyak 250 kepala keluarga. Rencana pernempatan di kecamatan Rantaupulung dan realisasinya baru pada tahun 2015. Pendekatan geografi yang digunakan dalam studi tersebut adalah pendekatan... A. Keruangan B. Ekologi C. Spasial D. Kelingkungan E. Kompleks wilayah 46. Secara geologis, fenomena lumpur Sidoarjo menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah di sekitar pusat semburan. Hal itu tampak jika membandingkan tinggi permukaan tanggul titik 21 Desa Siring sejajar dengan kubah masjid di daerah tersebut. Pendekatan yang sesuai untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... A. Keruangan B. Kelingkungan C. Kewilayahan D. Personal E. Integrative 47. Akhir tahun 2003 wilayah Lampung dilanda banjir dan tanah longsor. Bencana tersebut diduga kuat karena penambangan kapur, illegal longing penebangan hutan untuk areal pertanian serta permukiman. Kesimpulan penyebab banjir dan longsor tersebut sangatlah kompleks dan saling terkait antara unsur fisik dan sosial. Pernyataan di atas merupakan gambaran analisis geografi yang menggunakan pendekatan... A. Keruangan B. Kelingkungan C. Kompleks wilayah D. Lokasi E. Areal diferrentation 48. Banjir yang terjadi di Kota Jakarta tidak semata karena darainase yang kurang baik tetapi juga pengaruh dari wilayah sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Tangerang. Karena wilayah tersebut sebagai daerah resapan air sudah banyak beralih fungsi sebagai wilayah pembangunan. Oleh karena itu dalam pengambilan kebijakan penanganan banjir di Jakarta harus juga melibatkan wilayah-wilayah tersebut. Pendekatan geografi yang digunakan adalah pendekatan... A. Ekologi B. Keruangan C. Kemanusiaan D. Kelingkungan E. Kompleks wilayah 49. Untuk mengatasi banjir di Jakarta, pemerintah telah melakukan pembangunan Kanal Banjir Timur KBT, cara pemerintah DKI Jakarta dalam rangka mengatasi Banjir telah melakukan pendekatan... A. Kemanusiaan B. Kompleks wilayah C. Keruangan D. Temporal E. Ekologi 50. Saat ini banyak sungai yang tercemar akibat pembuangan limbah secara sembarangan. Padahal, masih banyak penduduk yang masih memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari. Namun, karena menggunakan sungai yang telah tercemar, banyak penduduk yang mengalami masalah kesehatan. Pendekatan geografi yang dapat digunakan untuk mengkaji gejala tersebut adalah pendekatan.... A. Keruangan B. Kelingkungan C. Kompleks wilayah E. Regional B. Kelingkungan Dalam soal permasalahan yang merujuk pada soal di atas, dapat dikaji menggunakan pendekatan kelingkungan. Pendekatan kelingkungan ecological approach menganalisis fenomena geografis berdasarkan interaksi antara alam dengan alam, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia yang ada di sekitarnya. Pada soal di atas dijelaskan bahwa manusia mengalami kerugian akibat dari pencemaran yang terjadi pada sungai. 51. Di awal bulan Mei 2017, terjadi banjir bandang di daerah Ciwidey-Bandung Selatan. Banjir ini mengakibatkan empat rumah hanyut terbawa air. Peristiwa tersebut terjadi disebabkan oleh alih fungsi lahan di bagian hulu. Pendekatan yang tepat untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... A. Keruangan B. Kompleks wilayah C. Ekologi D. Interelasi E. Regional 52. Bencana longsor yang terjadi di Lereng Merapi pada Desember 2017 lalu disebabkan adanya irigasi di dekat tebing penambangan dan adanya getaran dari aktivitas penambangan. Bencana tersebut mengakibatkan delapan orang penambangnya meninggal dunia. Sementara, delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Pendekatan yang tepat untuk mengkaji fenomena tersebut adalah pendekatan... A. Keraungan B. Spasial C. Ekologi D. Kewilayahan E. Interelasi 53. Masyarakat sekitar Citarum enggan memanfaatkan air sungai tersebut karena sungai sudah terkontaminasi berbagai macam limbah industri yang dibuang ke sungai. Kondisi citarum juga diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai tersebut. Pendekatan geografi yang tepat untuk mengkaji fenomena tersebut adalah... A. Keruangan B. Kewilayahan C. Temporal D. Kelingkungan E. Kompleks wilayah Mahasiswa/Alumni Universitas Gadjah Mada30 Desember 2021 1058Hallo Masitha Q, kakak izin menjawab yaa Pendekatan geografi merupakan cara untukmemahami dan menjelaskan fenomena di permukaan bumi. Pendekatan geografi terbagi menjadi tiga yaitu pendekatan ekologi, keruangan, dan kompeks wilayah. Salah satu pendekatah geografi adalah Pendekatan ekologi yang merupakan pendekatan yang mengkaji persamaan dan perbedaan fenomena geografi terhadap interaksi antara makhluk hidup atau organisme dengan lingkungannya. Dalam soal dijelaskan gizi buruk di beberapa wilayah yang dapat dikaji dari sekotr manusia dan kondisi fisik termasuk lingkungan. Jadi gizi buruk terjadi karena kondisi manusia dan lingkungan yang buruk. Sehinngga cocok dengan Pendekatan Ekologi. Jadi jawaban yang tepat adalah Pendekatan Ekologi. Semoga menjawab yaa

di beberapa tempat di indonesia terjadi kasus gizi buruk